Malam terasa sangat dingin ketika dari arah yang tidak terlalu jauh nampak secerca cahaya. seseorang duduk terdiam di keheningan malam termenung di hadapan sebuah lentera. Angin menerpa api dari lentera, namun sang penjaga lentera tetap menjaga agar api tak padam sehingga tak dapat lagi digunakan.
Sepintas akan nampak hal yang aneh ketika ilustrasi di atas dipahami dari sudut pandang yang sering kita gunakan. Bahwa sang penjaga lentera adalah seorang yang sedang melakukan ritual untuk mendapatkan keuntungan atau dengan kata lain sedang melakukan pesugihan untuk mendapatkan keuntungan yang haram. namun sekarang kita mencoba untuk memandang sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, menggali dari arah yang berlawanan.
Setiap manusia memiliki lentera kehidupan masing-masing, dan setiap manusia menjaga lenteranya agar tak padam. Berjuang untuk Kelangsungan hidupnya, berjuang untuk keluarga dan ornag-orang yang mereka cintai. Belajar untuk merasakan kehidupan yan g ada disekitarnya. Belajar untuk melihat dari sisi yang berbeda sehingga lentera kehidupannya bermanfaat untuk orang lain tanpa melukai dirinya.
Kehidupan sosial yang selama ini kita jalani seakan telah kehilangan arah dengan matinya lentera keadilan dan kebersamaan disegala lini kehidupan. tak ada lagi sifat kebersamaan dan sifat saling melindungi, baik yang bercokol di tingkat atas maupun yang bergelimpangan di kubangan. Pemerintah tidak lagi memikirkan untuk mensejahtrahkan rakyatnya yang notabenenya pemerintah adalah pelayan rakyat. Aparatur negara tidak lagi memiliki rasa untuk melindungi. sekilas nampak untuk melindungi dengan postur dan seragam yang gagah namun substansi dari keberadaan mereka tak lebih dari aksesoris semata, masyarakat tak terlindungi terlebih bagi negara yang sangat luas ini.
Cukup memprihatinkan ditengah kekisruhan negara ini, namun itu belum berakhir karena suma lini telah terasuki. Dari kalangan mahasiswa tidak lagi memusingkan dirinya sebagai pusat social control, imbas dari hal tersebut malahirkan mahasiswa hedonis, apatis, dan arogan. Dalam tataran masyaraka banyak pun telah kehilangan rasa untuk saling tolong menolong sesama mereka, maka lahirlah kembali mahluk yang disebut dengan leviathan, yaitu mahluk ganas yang ada di lautan yang memangsa sesamanya sendiri dan itu adalah perumpamaan bagi masyarakat kita sekarang.
Problematika di atas bukan merupakan sikap apatis akan segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita, namun ini merupakan cerminan untuk menuju kearah yang lebih baik, yatu perbaikan lini yang kita anggap urgen. Memperbaiki bukan secara reformis, namun memperbaiki secara transformatif, yaitu dengan memulai dari diri kita sendiri. Kebaikan tidak akan dapat pernah tercapai jika bukan dimulai dari hal yang terkecil. Hal yang terkecil adalah diri kita sendiri maka mulailah dari diri sendiri agar mampu membuat perubahan dan mampu untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain. Bermanfaat tidak mesti membantu secara financial, namun membanmtu dalam arti yang luas, yaitu dengan memulai dari hal yang kecil dengan tidak memberi kesulitan bagi siapa yang ada disekitar kita.
Untuk para sahabaku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar