Meniru
Keluhan yang sering terjadi pada
saat ini adalah merosotnya atau terdegradasinya moral dari generasi bangsa ini
dengan kejadian-kejadian tawuran yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dari
anak-anak kita. Hal ini tidak dapat kita pungkiri dan kita biarka saja karena
ini akan merambat kegenerasi aygn selanjutnya,yakin sajalah. Dendam senioritas
akan menulaar pada juniornya dikarenakan meniru baik secara terpaksa atau pun
secara setengah terpaksa atau pun secara sukarela. Hal ini terus menjadi
perdebatan baik dikalangan akademisi, politisi, dan juga agamawan dan semua
memberikan komentar dan bahkan solusi, namun tih kejadian ini terus saja
berulang dan bahkan makin menjadi-jadi.
Memang keadaan ini harus dianggap
sebagai masalah yang krusial, karena jika tidak maka generasi kedepannya yang
akan manjadi korbannya dan hal ini harus segera dicarikan solusinya. Seperti yang
kita ketahui bersama bahwa pendidikan bukan dimulai dari sekolah namun
hakikatnya pendidikan dimulai dari rumah kemudian sekolah dan akan
diaplikasikan kemasyarakat. Rumah sebagai tempat untuk berteduh haikatnya bukan
hanya sekedar untuk bernaung dari teriknya matahari dan dinginnya malam, namun
hakikatnya merupakan sebuah instiusi untuk mendidik para generasi bangsa dengan
cara memberikan contoh yang baik serta menjalin komunikasi yang lebih inten pada
anak-anak kita.
Selaku umat muslim kita memiliki kewajiban
untuk beribadah pada sang pencipta kita sebagai rasa terima kasih atas apa yang
telah dianugrahkan pada kita sehari-hari dan tanpa terputus. Tugas selaku orang
tua di dalam rumah bukan hanya menafkahi namun juga bagaimana memberi contoh
yang baik pada anak kita bagaimana melaksanakan sholat yang baik dan menurut
saya sendiri ini adalah salah satu kunci utama bagaimana memulai pendidkan yang
baik dimulai dari dalam rumah.
Banyak orang tua yang memang sholat
secara baik namun belum tentu sang anak akan sholat secara baik pula hal ini juga menjadi masalah karena ekspektasi
orang tua dan bahkan masayarakat akan menilai bahwa rang tua yang shalatnya
baik, sholeh dalam kesehariannya maka akan menular pada anakanya. Hal ini bisa
jadi betul dan tak jarang hal ini menjadi salah. Penulis beranggapan bahwa
kurangnya contoh yang diberikan oleh orang tua dan kurangnya komunkasi antara
anak dan orang tua menimbulkan jarak.
Tulisan ini terinspirasi dari
kegiatan zikir yang sering dilaksanakan setelah shalat di masjid setiap hari di Bandung
jalan Geger Kalong Girang gang Albarkah, yang mana setiap selesai shalat magrib dan
subuh para jamaah melantunkan bacaan zikir setelah slahat dengan suara zahir
atau suara yang cukup jelas. Penulis sendiri tidak mengambil hal buruk dari
kegiatan ini yang mana mungkin bagi sebahagian orang akan menganggap bahwa apa
yang dilakukan oleh masyarakat di masjid ini adalah prilaku bidah, namun penulis
mengambil suatu pelajaran ketika seorang anak kecil mengikuti dengan fasih
bacaan zikir yang dilakukan secara berjamaah. Ini dapat menjadi pelajaran bagi
kita bahwa dengan mencontohkan kepada anak kita maka mereka akan dengan mudah
mencerna karena secara psikis manusia akan mudah mencerna sesuatu ketika
seluruh indra dalam dirinya berfungsi, baik audio mapun visualnya.
Proses ini dapat kita jadikan
sebagai langkah awal bagaimana memperbaiki pedidikan dari rumah dengan mengajak
anak kita untuk melakukan kegiatan secar bersama sehingga orang tua bukan hanya
menafkahi secara lahiriah, namun secara spiritual berjalan seimbang sehingga
fungsi orang tua sebagai khalifah di dalam lingkungan keluarga betul-betul
berfungsi.
Bandung
12/10/2012