Kamis, 11 Oktober 2012


Meniru
            Keluhan yang sering terjadi pada saat ini adalah merosotnya atau terdegradasinya moral dari generasi bangsa ini dengan kejadian-kejadian tawuran yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dari anak-anak kita. Hal ini tidak dapat kita pungkiri dan kita biarka saja karena ini akan merambat kegenerasi aygn selanjutnya,yakin sajalah. Dendam senioritas akan menulaar pada juniornya dikarenakan meniru baik secara terpaksa atau pun secara setengah terpaksa atau pun secara sukarela. Hal ini terus menjadi perdebatan baik dikalangan akademisi, politisi, dan juga agamawan dan semua memberikan komentar dan bahkan solusi, namun tih kejadian ini terus saja berulang dan bahkan makin menjadi-jadi.
            Memang keadaan ini harus dianggap sebagai masalah yang krusial, karena jika tidak maka generasi kedepannya yang akan manjadi korbannya dan hal ini harus segera dicarikan solusinya. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa pendidikan bukan dimulai dari sekolah namun hakikatnya pendidikan dimulai dari rumah kemudian sekolah dan akan diaplikasikan kemasyarakat. Rumah sebagai tempat untuk berteduh haikatnya bukan hanya sekedar untuk bernaung dari teriknya matahari dan dinginnya malam, namun hakikatnya merupakan sebuah instiusi untuk mendidik para generasi bangsa dengan cara memberikan contoh yang baik serta menjalin komunikasi yang lebih inten pada anak-anak kita.
            Selaku umat muslim kita memiliki kewajiban untuk beribadah pada sang pencipta kita sebagai rasa terima kasih atas apa yang telah dianugrahkan pada kita sehari-hari dan tanpa terputus. Tugas selaku orang tua di dalam rumah bukan hanya menafkahi namun juga bagaimana memberi contoh yang baik pada anak kita bagaimana melaksanakan sholat yang baik dan menurut saya sendiri ini adalah salah satu kunci utama bagaimana memulai pendidkan yang baik dimulai dari dalam rumah.
            Banyak orang tua yang memang sholat secara baik namun belum tentu sang anak akan sholat secara baik pula hal  ini juga menjadi masalah karena ekspektasi orang tua dan bahkan masayarakat akan menilai bahwa rang tua yang shalatnya baik, sholeh dalam kesehariannya maka akan menular pada anakanya. Hal ini bisa jadi betul dan tak jarang hal ini menjadi salah. Penulis beranggapan bahwa kurangnya contoh yang diberikan oleh orang tua dan kurangnya komunkasi antara anak dan orang tua menimbulkan jarak.
            Tulisan ini terinspirasi dari kegiatan zikir yang sering dilaksanakan setelah shalat di masjid setiap hari di Bandung jalan Geger Kalong Girang gang Albarkah, yang mana setiap selesai shalat magrib dan subuh para jamaah melantunkan bacaan zikir setelah slahat dengan suara zahir atau suara yang cukup jelas. Penulis sendiri tidak mengambil hal buruk dari kegiatan ini yang mana mungkin bagi sebahagian orang akan menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh masyarakat di masjid ini adalah prilaku bidah, namun penulis mengambil suatu pelajaran ketika seorang anak kecil mengikuti dengan fasih bacaan zikir yang dilakukan secara berjamaah. Ini dapat menjadi pelajaran bagi kita bahwa dengan mencontohkan kepada anak kita maka mereka akan dengan mudah mencerna karena secara psikis manusia akan mudah mencerna sesuatu ketika seluruh indra dalam dirinya berfungsi, baik audio mapun visualnya.
            Proses ini dapat kita jadikan sebagai langkah awal bagaimana memperbaiki pedidikan dari rumah dengan mengajak anak kita untuk melakukan kegiatan secar bersama sehingga orang tua bukan hanya menafkahi secara lahiriah, namun secara spiritual berjalan seimbang sehingga fungsi orang tua sebagai khalifah di dalam lingkungan keluarga betul-betul berfungsi.
Bandung 12/10/2012